Pergeseran dari Bersosialisasi ke Branding
Dulu, media sosial menjadi tempat kita mencari dan terkoneksi dengan teman. Sekarang, media sosial tempat kita mencari perhatian. Bedanya dikit tapi lelahnya beda jauh. Masih ingat Friendster? Platform yang sempat booming di awal era internet muncul. Bagi banyak orang Indonesia, inilah pengalaman pertama bersosialisasi di dunia digital. Kalau kamu gen Z, kemungkinan kamu tidak mengenalnya memang.
Tak lama setelah itu, Facebook hadir dengan tampilannya lebih bersih dan fiturnya lebih praktis. Waktu itu orang menulis status sederhana seperti “hujan lagi” atau mengekspresikan perasaannya dengan menulis “lagi galau..”. Apa adanya. Kadang norak tapi terasa manusiawi. Tidak ada niat menjual apa pun selain membagikan cerita yang dialami hari itu.
Instagram yang lahir belakangan, awalnya pun begitu. Meski menonjolkan sisi visual, orang mengunggah foto masih sekedar untuk berbagi momen indah atau menitipkan memori. Isinya foto di pantai, makanan yang blur karena goyang saat mengambil gambar, hingga penggunaan filter berlebihan yang kadang membuat wajah seseorang jadi aneh. Tapi masih sama, kala itu orang menulis status dan mengunggah foto tanpa memikirkan strategi.
Perubahan Wajah Timeline
Hingga datang masa ketika setiap unggahan berubah menjadi konten terencana. Platform yang dulu dipenuhi foto pantai kini dipenuhi tips sukses sebelum usia 30, infografis self-care, sampai jualan masker wajah dengan caption yang filosofis. Timeline bukan lagi halaman kenangan, tapi rak pajangan. Setiap unggahan perlu diatur supaya terlihat “organik”, padahal sudah dirancang seperti iklan.
Foto harus memiliki tone senada dan caption yang relatable. Kalau bisa, jangan lupa beri kalimat penutup, “Link di bio!”
Rasanya kini media sosial resmi pensiun dari tugas sosialnya karena bagian besar pengguna sekarang memakainya untuk mencari atau mempromosikan produk. Semuanya kini ingin punya personal brand. Bahkan yang bilang menolak tampil kadang itu hanyalah cara lain untuk tampil; dengan gaya yang lebih halus dan misterius. Konten edukasi? Tetap promosi, hanya saja lebih sopan. Aktivitas sosial? Juga butuh desain feed yang rapi supaya pesannya dipercaya.
Dunia digital seolah tidak memberi ruang bagi yang benar-benar ingin berbagi tanpa niat tampil. Dan begitu pula aku, yang berkata malas berurusan dengan sosial media tapi masih juga menulis di sini, mencoba meraih perhatian dari algoritma. Aku yang ingin terlihat sederhana, tapi tetap berharap tulisannya dibaca orang lain.
Ruang yang Semakin Mengaburkan Kehadiran
Media sosial memang tidak salah. Media sosial sebenarnya hanya mengikuti keinginan manusia. Masalahnya, keinginan itu bergeser: dulu kita ingin berhubungan, sekarang kita ingin dilihat. Dan di tengah usaha kita untuk terus tampil aktif di media sosial, kadang muncul pertanyaan sederhana: apakah kita masih sungguh hadir dalam hidup ini, atau sedang sibuk memastikan terlihat hidup?
Sosial media dimulai dengan niat baik, untuk saling menemukan. Tapi mungkin, dalam perjalanan panjang itu, yang perlu ditemukan kembali bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri.

