Kejadian Kecil di Halte
Di halte bus itu, aku melihat seorang remaja mengepalkan tangannya erat.
Ia mendengus kesal.
“Aaah… ketinggalan bis,” katanya pada dirinya sendiri.
Ia melompat-lompat kecil beberapa kali.
Dari sudut seberang halte, tiba-tiba salah satu penjaga berteriak,
“Dudu salahku lho. Aku wes mbengok-mbengok lho yo. Wes tak bolan-balené. Dudu salahku…”
Aku tidak tahu persis berapa kali ia mengatakannya. Yang jelas, lebih dari dua kali kata dudu salahku keluar dari mulutnya.
Padahal remaja itu tidak sedang berbicara dengan siapa pun. Ia hanya sedang melampiaskan rasa kesalnya, pada dirinya sendiri. Tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa.
Ketika Keluhan Dibaca sebagai Tuduhan
Kejadian itu tidak berlangsung lama. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada adu argumen. Bus sudah pergi.
Tapi yang tertinggal di kepalaku justru bukan soal busnya.
Aku baru sadar betapa cepatnya kita membaca keluhan sebagai tuduhan. Betapa refleksnya kita memastikan diri tidak salah, bahkan ketika tidak ada yang menyalahkan.
Budaya Siapa yang Salah
Dalam budaya yang menjunjung ketertiban dan nama baik, kesalahan jarang dipandang sekadar kesalahan. Ia bisa terasa seperti ancaman pada harga diri.
Soal peran, harus jelas siapa terlihat lalai dan siapa terlihat sudah menjalankan tugasnya. Maka kalimat pembelaan sering meluncur lebih dulu.
Menjaga diri agar tidak terlihat salah terasa lebih penting daripada memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Seolah-olah setiap kejadian harus segera ditutup dengan kesimpulan: siapa benar, siapa salah.
Padahal tidak semua gumaman adalah tuntutan. Tidak semua desah kesal adalah serangan. Ada momen ketika seseorang hanya sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Tidak mencari kambing hitam. Tidak meminta jawaban.
Namun kita terbiasa berjaga. Terbiasa merespons cepat. Terbiasa memastikan nama kita aman sebelum makna sebuah peristiwa benar-benar dipahami.
Review Paling Jujur di Rumah
Lucunya, sore itu aku pulang ke rumah dan menemukan bentuk penilaian paling jujur atau bisa kubilang keluhan.
Anakku menulis pengalaman makannya hari itu di buku. Ditulis tangan, lengkap dengan deskripsi yang dramatis. Tentang masakan yang “lebih lembek dari makanan bayi” dan “lebih hambar dari air kran.”
Di bagian akhir ia menutup dengan satu kalimat sangat tegas:
“Overall rating makanannya minus sejuta.”
Tidak mau membela diri. Tidak mau klarifikasi. Tidak ada “dudu salahku.”
Dan entah kenapa, aku tidak merasa perlu menentukan siapa yang benar.
Mungkin karena di rumah, yang tersisa bukan soal benar atau salah.
Hanya rasa di lidah yang bekerja.

